RSS

FIQH ZAKAT (Ust Ahmad Bisyri Syakur) – azzam03022013

06 Feb

zakatA.      Acuan Berfikir

QS Ali Imran : 180

Ayat ini menjelaskan suatu hakekat yang ‘bertentangan’ dengan apa yang dipikirkan oleh kebanyakan manusia. Apa itu? Dalam ayat ini dinyatakan bahwa orang-orang yang ‘kikir’ (pelit, menumpuk-numpuk, menyimpan harta-pen) mengira bahwa kikir tersebut adalah ‘baik’ bagi mereka. Padahal sebaliknya, sangat buruk ‘kikir’ itu bagi mereka.

Banyak diantara kita yang juga berfikir bahwa menumpuk-numpuk dan menyimpan  harta adalah baik, padahal sebaliknya, sesuai Firman Allah tersebut diatas.

B.      Pengertian Zakat

Secara bahasa >> kesucian, pertumbuhan, keberkahan; ini adalah pengertian secara bahasa, bukan secara syariat yang akan dibahas dalam materi zakat kali ini. Sehingga jangan sampai beranggapan bahwa zakat ini bisa me-suci-kan harta yang kotor, misal hasil dari korupsi.

Secara syariat/agama >> ada beberapa definisi, tapi menurut pemateri, definisi yang paling mendekati adalah definisi Sayid Sabiq dalam Fiqh Sunnah,

“Zakat adalah sebutan bagi harta yang dikeluarkan oleh seorang muslim dari hak Allah untuk disalurkan kepada golongan yang berhak , yang penarikan dan penyalurannya sudah ditentukan caranya”

‘harta yang dikeluarkan seorang muslim’ >> merupakan salah satu ‘pengeluaran’ umat muslim. Apakah berarti menjadi orang Islam sama dengan rugi? Apalagi di negeri ini ada pembebanan pajak, artinya orang Islam selain dibebani pajak, dibebani zakat juga? Pemikiran seperti itu tidak tepat, karena hakekatnya semakin tinggi pembebanan, semakin tinggi juga kemuliaan. Analoginya, pejabat, semakin tinggi karirnya, semakin besar beban amanahnya, semakin dihormati juga dirinya. Jadi, pembebanan zakat pada umat muslim, oleh Allah, adalah kemuliaan dari Allah.

‘dari hak Allah’ >> karena merupakan perintah Allah ta’ala.

‘Disalurkan kepada golongan yang berhak’ >> penyaluran ini sangat ketat, hanya bisa ke 8 golongan yang sudah ditetapkan, banyak yang masih belum memahami hal ini. Banyak yang salah berfikir, bahwa pengemis, anak yatim, janda, itu berhak menerima zakat, padahal tidak. Tidak ada golongan ‘pengemis’, ‘anak yatim’, ‘janda’ yang disebutkan sebagai golongan yang berhak. Adapun mereka, seandainya menerima zakat, bukan karena status pengemis, anak yatim, atau janda, melainkan karena status (mungkin) miskinnya.

* ditegaskan oleh pemateri, agar kita tidak selalu mengidentikkan pengemis dengan orang miskin. Islam mencintai orang miskin, tetapi tidak mencintai orang peminta-minta. Dan kalau mau menyalurkan zakat ke orang miskin, akan lebih baik langsung mendatangi rumahnya, bukan menyalurkan di jalanan. (ceritanya panjang)

‘Penarikan dan penyaluran dengan tata cara ttt’ >> zakat mengenal istilah ‘nishob’, klo sudah mencapai nishobnya maka wajib membayar zakat, kalau tidak, tidak wajib membayar zakat. Bahkan dalam sebuah hadits disampaikan, bahwa jika ada seorang amir menarik zakat pada orang yang bukan wajib zakat, maka amir tersebut sama dengan ‘pencuri’.

C.      Legalitas Zakat

Secara umum, zakat itu ‘LEGAL’, ada dalilnya, sehingga kalau ada pembayaran yang bukan ‘zakat’ jangan disebut zakat. Banyak yang mengira yang dibayarkan zakat, tetapi tidak sesuai dengan pengertian zakat.

D.      Hikmah Zakat

Hikmah => hikmah adalah manfaat, setiap syariat Allah ‘pasti’ ada hikmahnya. Puasa, sholat, haji, zakat, perceraian, jihad, dll semua ada hikmahnya.

ü  Hikmah Zakat bagi Muzakki

1.         Membersihkan harta dari hak orang lain >> hak orang lain? Kita bekerja dari keringat kita sendiri, tapi ada hak orang lain dalam penghasilan yang merupakan hak kita setelah bekerja? Dasarnya apa? Dasar yang pertama, ini adalah Firman Allah (lupa ayatnya),, kemudian dasar kedua, secara logika, manusia ini tidak bisa hidup sendirian, tanpa orang lain kita tak akan bisa mendapatkan penghasilan. Juga, untuk keseimbangan, ada orang yang bekerja ‘sedikit’ hasilnya banyak, dan ada pula yang bekerja mati2an, namun penghasilannya setengah mati.

               Misal seorang GM perusahaan besar, gaji perbulannya sangat tinggi dengan pekerjaan yang mungkin dengan usaha yang ‘relatif sedikit’. Sementara guru ngaji, guru sekolah, hasilnya tidak seberapa dengan usaha yang mungkin lebih banyak dari GM tersebut diatas. Mungkin kita akan berpikir, toh guru itu kan sudah dibayar? Tapi, cukupkah yang kita bayarkan? 2 juta yang dia terima habis dalam satu bulan, tapi ilmu yang kita dapatkan?? Habisnya berapa bulan? Itulah, mengapa ada hak orang lain dalam penghasilan kita.

2.       Memupuk Kepedulian pada yang lemah
3.       Mengembangkan perolehan harta (materi)
4.       Keberkahan harta dan keluarga (rohani) >> yang dimaksud dengan keberkahan adalah ziyadatul khoiri fii khoiri atau semakin banyak kebaikan yang ia terima dari hartanya.

ü  Hikmah Zakat bagi Mustahiq

  1. Menghapus iri hati dan dengki >> iri dengki adalah penyakit umum orang miskin, sedangkan sombong adalah penyakit umum orang kaya.
  2. Membangun motivasi hidup >> jangan sampai adalagi orang yang berbuat maksiat dengan motivasi ekonomi.
  3. Menumbuhkan Izzah Islamiyah (kebanggaan beragama Islam) >> penerima zakat akan senang, dan bangga beragama Islam, karena yang berhak menerima zakat adalah orang muslim.

ü  Hikmah Zakat bagi Masyarakat Luas

  1. Menekan angka kriminalitas
  2. Pemberdayaan UKM
  3. Membina ukhuwah Islamiyah
  4. Mengundang rahmat Allah >> dengan ketaatan umat Islam kepada Allah dalam membayar zakat diharapkan bisa mengundang rahmat Allah.

E. Wajib Zakat

  1. MUSLIM >> pembebanan itu seiring dengan kehormatan
  2. MERDEKA >> Merdeka artinya status bukan budak. Budak tidak wajib membayar zakat. Budak termasuk yang berhak menerima zakat. Jaman dulu, tidak semua budak merasa menderita, imej budak adalah penderitaan adalah karena dalam benak kita, budak identik dengan ‘Bilal’ yang dipukul dan disiksa. Namun, sebenarnya Bilal tidak disiksa melainkan karena ia masuk Islam, bukan karena dia budak. Islam menghapus perbudakan secara bertahap.
  3. Memiliki Nishob (standar minimal) >> kalau hartanya masih belum mencapai nishob, maka tidak wajib membayar zakat.

SIMPULAN TANYA JAWAB

1. Membayar zakat boleh menyalurkan sendiri apa harus melalui amil zakat?

Idealnya dan seharusnya melalui amil zakat, karena dalam Islam amil zakat dikenal secara ‘resmi’, ada dalilnya dan banyak hikmahnya. Ada amil zakat, tapi tidak ada istilah amil shodaqoh. Kondisi saat ini terbalik, orang banyak memilih menyalurkan zakatnya sendiri, tetapi membayar shodaqoh melalui amil.

Hikmah Amil >>

  1. mengantisipasi sifat sombong Muzakki; kecenderungan orang kaya adalah sombong, padahal amal apapun yang disertai sifat sombong, sia2 amalannya. Misal, ada orang kaya, zakatnya setelah dihitung 300 juta, kemudian ia berjalan di kampung miskin dan membagi2kan uang zakat, ditakutkan akan muncul rasa sombong pada muzakki tersebut.
  2. Mengurangi rasa minder Mustahiq >> dengan adanya Amil, maka penerima zakat tidak tahu, uang yang diterima dari zakatnya siapa, sehingga kehormatannya lebih terjaga, tidak minder, dan tidak ada rasa harus balas budi.

2. Amil Zakat di Indonesia?

Ada yang dari pemerintah (‘Badan’ Amil Zakat – BAZ) dan ada yang non-pemerintah (‘Lembaga’ Amil Zakat – LAZ). Sejarahnya LAZ, dulu dengan adanya BAZ, bertahun2 kurang terasa manfaat zakat, dan kepercayaan masyarakat kepada badan bentukan pemerintah cukup kecil, juga laporannya jarang disampaikan ke Muzakki. Sehingga muncul LAZ-LAZ, dan masyarakat banyak yang sadar bayar zakat melalui amil, dan laporannya pun cukup transparan sehingga masyarakat lebih percaya menitipkan penyaluran zakat melalui LAZ.

3. Nishob zakat mal?

Zakat mal adalah zakat harta, yang di breakdown lagi menjadi beberapa jenis zakat berdasarkan hartanya, ada zakat pertanian, zakat simpanan, zakat profesi, dll. InsyaAllah akan dibahas dipertemuan berikutnya. Nishob sudah ditentukan, misal zakat atas kambing adalah 40 ekor. Tidak boleh kita merekayasa sehingga tidak mencapai nishob dengan tujuan menghindari zakat. Misal, hampir mencapai 40 ekor kambing, maka kambingnya dijual atau disembelih karena menghindari nishob zakat. Keadaan seperti ini dinamakan ‘lari dari kewajiban zakat’ dan tetap berkewajiban membayar zakat.

 
Leave a comment

Posted by on February 6, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: