RSS

Hafalan Shalat Delisa, Nobar Bahrul Ulum

26 Dec

(Ditulis oleh Wahyuni Alfiah)

Berakhirnya pendidikan angkatan dasar, n belum dimulainya angkatan lanjutan, membuat kami, kelas Bahrul Ulum merindukan momen kumpul-kumpul bersama dengan teman-teman YISC Al Azhar.. Untuk mengobati kerinduan itu, banyak acara yang kami agendakan untuk tetap menjaga ukhuwah teman2 Bahrul Ulum pada khususnya. Kali ini, nonton bareng Hafalan Sholat Delisa yang akhirnya ditetapkan pada Minggu, 25 desember 2011, yang diikuti 8 ikhwan dan 12 akhwat. Kali ini jumlah pesertanya tidak sebanyak saat rafting. Sebagian dari kami lebih memilih bertemu dengan keluarga mereka di kampung halaman, karena memang nobar kelas B bertepatan dengan libur cuti bersama.

Kami memilih 21 cinema Blok M Square  sebagai tempat nobar kami yang tak jauh dari Al-Azhar(AA), tempat kami menimba ilmu agama dan berteman dengan orang-orang shaleh, sedangkan waktu penayangan filmnya pukul 14.40.

Review Hafalan Shalat Delisha Movie

Bagi sebagian orang yang sudah membaca novel ini sebelumnya, mungkin ekspektasinya lebih dari novel yang di filmkan ini. Berharap setiap kata-kata Tere liye disuguhkan kembali dalam warna yang berbeda namun tetap membebaskan penonton untuk berimajinasi.

Namun, bagi yang belum membaca tinggal mengikuti saja alur cerita yang dibuat oleh sutradara.  Dari judulnya mungkin yang pertama kali membuat kita penasaran adalah siapakah Delisa?? Lalu pertanyaan selanjutnya ada apa dia dengan hafalan shalatnya??

Delisa, adalah seorang gadis kecil berusia enam tahun  yang cantik dan kadang  menyebalkan terutama untuk kakak ke 3nya, Aisyah, namun menggemaskan bahkan bisa memberi semangat pada orang dewasa di sekelilingnya karena perkataan dan sikapnya yang polos.

Dia tinggal dengan keluarga yang kental dengan nilai religi dan penuh dekapan kasih sayang, bungsu dari 4 bersaudara. Kakak pertamanya bernama Fatimah, yang kedua Zahra, dan yang ketiga Aisyah. Delisa paling sering berantem dengan Aisyah karena umur mereka yang tidak terlalu jauh dan karena Aisyah sering cemburu dengan Delisa.

Kehidupan keluarga mereka terlihat sederhana namun bahagia dengan perkelahian kecil yang biasa ada di antara kakak dan adik. Ummi Salamah lah yang biasanya menjadi penengah. Sedangkan abi delisa, sedang dinas dan biasanya abi delisa hanya menelpon untuk mengetahui kabar anak-anak dan istrinya.

Suatu  hari Ummi Salamah mengajak Delisa ke toko perhiasaan langganannya untuk membeli kalung sebagai hadiah jika Delisa sudah bisa menghafal hafalan shalatnya dengan baik dan benar. Dia memilih kalung berinisial D yang berarti “D untuk Delisa”. Ia begitu senang sekali dan ingin segera memakainya tapi ummi melarangnya, sampai Delisa benar-benar bisa hafal hafalan shalatnya dengan tartil. Delisapun terus menghafalnya meski sering lupa dan pasti diejek oleh Aisyah, kakaknya.

Satu hal yang mengharukan dalam film ini, yakni ketika Delisa mengungkapkan dengan polos kepada Ummi nya, “Delisa sayang Ummi, karena Allah..” memaksa beberapa penonton mengeluarkan air matanya..

Suatu ketika seperti biasa dia pergi mengaji ke Ustad Rahman setelah pengajian itu berakhir Delisa langsung maju ke depan menagih janji kepada Ustad  Rahman. Dengan polosnya ia bilang “ustad-ustad, Delisa sudah melakukan seperti yang ustad bilang dua hari yang lalu” kemudian ustad menjawab sambil pura-pura lupa“yang mana ya?”   Delisa coba mengingatkan “ Duuh.. ko ustad lupa sih. Itu yang bilang ke ummi! Kan ustad bilang begini: “ nah coba kalian katakan kepada ummi masing-masing. Nanti kalau umminya sampai menangis,ustad beri hadiah!”  Ustad Rahman pun tertawa dan segera memberi cokelat sebagai hadiah karena Delisa telah menjalankan tugasnya.  Delisapun pulang dengan hati riang. Ya, akhirnya gadis kecil itu mendapatkan sebatang cokelat karena keberaniannya mengatakan Delisa mencintai ummi karena Allah. Ya.. itu ia lakukan hanya karena sebatang cokelat.

Hehehey… hampir setengah jalan film berlalu dimanakah bahrul ulum??? Yup.. kami tetap di bangku masing-masing sambil mengoper snack dari satu teman ke teman yang lain, kriukan demi kriukan yang ada. Sesekali kami dan penonton lain tertawa saat  menonton adegan polos Delisa.

26  desember 2004

Layar  di depan memperlihatkan tanggal tersebut sekaligus mengingatkan kami kembali tsunami yang meluluh lantahkan Aceh. Saat  adegan giliran Delisa yang mengikuti ujian hafalan shalat di depan Ustad Rahman, Ibu guru Nur, umminya yang terus memberikan semangat di balik jendela dan teman-temannya di kelas, saat gadis kecil itu mengucapkan takbir, mencoba membaca hafalan shalat dengan khusuk, teringat ucapan ustad bahwa shalatlah seperti cara rasulullah shalat yang ketika ada kalajengking di dekatnya, beliau tidak merasakannya karena saking khusuknya.

Ya, Delisa, si gadis kecil itu ingin mencobanya, saat itulah air bah datang dan semua orang morat-marit termasuk Ummi Salamah yang ingin mencoba menolong putri kecilnya tapi apa daya beliau pun lebih dulu terbawa arus dan Delisa?? bagaimana Ia? Tidakkah ia mendengar suara gemuruh? Tidakkah ia tau orang-orang di sekitarnya sudah terhempas oleh air bah? Delisa justru makin terhanyut dalam bacaan shalatnya sampai tanpa ia sadari ia pun sudah teggelam dalam air bah tsunami. Seketika itu pula ruangan teater 2 hening, tidak ada suara tertawa penonton dan juga suara kriukan snack bahrul ulum.

Penonton sepertinya merasakan kembali bencana besar itu saat beberapa tahun lalu disiarkan di seluruh channel tv dunia dan mungkin tanpa disadari mata mereka sudah basah air mata termasuk diriku ini. Teman sebelah kiriku, Sherly mencoba menutup wajahnya yang sudah basah dengan jilbabnya dan mungkin yang lain sudah siap dengan tissuenya. Lalu apa kabar akhwat-akhwat dan ikhwan-ikhwan yang duduk di sayap kiri? Ah.. mungkin mereka juga ikut menangis walaupun setetes,dua tetes. Kalaupun ikhwannya ngak sampe nangis, yaa.. seenggaknya terenyuhlah lihat adegan itu. Tapiii… tiba-tiba aku yang duduk di sayap kanan, teman sebelah kananku, Nisya tertawa lalu ku tanya “kenapa si sya?” sambil ketawa dia jawab “ itu.. si Murni ngusel-ngusel jilbabku, pas aku tanya ngapain si Mur? Murni blgnya ini.. aku ngelap air mata Sya, boleh ya?”  akupun tertawa kecil padahal mataku masih basah. Eaaa.. ngerusak suasana, ada-ada aja anak kelas B 😀

Adegan demi adegan terus berlanjut, dari abi delisa yang terus mencari putri kecilnya dengan harap-harap cemas karena tinggal Delisalah yang belum ada kepastian kabarnya sedangkan Ummi Salamah dan ke 3 putrinya sudah dikubur massal bersama yang lain, sampai adegan Delisa ditolong oleh sukarelawan yang tampan dan baik hati, Mr.Smith lalu bertemu dengan perawat cantik dan baik hati pula, Kak Sofi. Mereka berdualah yang merawat Delisa meskipun mereka dan Delisa tidak mengerti bahasa satu sama lain tapi karena Delisa cerdas dan Mr. Smith serta Kak Sofi merawatnya dengan sepenuh hati jadi komunikasi dan interaksi mereka lancar sampai akhirnya Delisa sembuh dan bertemu abinya.

Delisa sadar saat ini dia hanya memiliki satu kaki karena yang satunya busuk dan harus diamputasi dan dia sadar pula kalau ummi, ka fatimah, ka zahra, ka aisyah sudah meninggalkannya ke tempat yang lebih baik. Begitu pula dengan Ibu guru Nur dan Tiur, sahabatnya. Yang ada kini hanya Delisa, abi, Umam, temannya yang suka jail, ko aho, penjual perhiasaan langganannya dan ustad rahman.. sedangkan Mr.Smith dan Ka Sofi pulang ke negara asal setelah selesai menjalankan tugas. Mereka banyak belajar pula tentang kehidupan dari gadis kecil itu, Delisa.

Saat ini Delisa hanya ingin shalat bukan karena sebatang cokelat ataupun kalung manis berinisial D dari umminya tapi ia ingin shalat karena Allah.

Memang film Hafalan Shalat Delisa tidak sedetil novelnya dan ada alur cerita yang berbeda tapi  hal yang yang bisa kita ambil dan jadi PR untukku, untuk kami, dan untuk kita..

sudahkah  kata “aku mencintamu, Ibu, karena Allah”  terlontar dari bibir kita??

Sudahkah kita paham arti kata tersebut??

Entah Ibu kita masih ada ataupun tidak, semoga kita mempunyai keberanian untuk mengatakannya secara langsung atau yang hanya bisa lewat doa dan sujud sekalipun.

Dan sudahkah shalat kita benar-benar khusuk? hanya karena Allah??

Hafalan Shalat Delisa, sebuah film yang memaksa kita berinterospeksi diri dan memotivasi kita, untuk menjadi muslim/muslimah yang semakin baik, InsyaAllah..

 
Leave a comment

Posted by on December 26, 2011 in Kegiatan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: